Tentang sebuah perasaan yang datang dari hati lalu ditulis kesebuah Diary Peri Kecil :). Karena sebuah tulisan sangatlah mempunyai arti yang sangat besar
Jumat, 04 Oktober 2013
Kamis, 29 Agustus 2013
Askep Diabetes Melitus
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya
kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi
setiap penduduk agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Agar dapat
mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal maka dikembangkan upaya
kesehatan untuk seluruh masyarakat yang mencakup upaya peningkatan (promotif),
pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif)
yang bersifat menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Dengan demikian perawatan merupakan hal yang perlu
diperhatikan dalam semua upaya tersebut diatas. Dalam upaya perawatan ini
perawat melaksanakan suatu asuhan keperawatan dengan memperhatikan klien secara
menyeluruh baik fisik, mental, sosial maupun spiritual, dimana perawat harus
selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam proses pertumbuhan dan
pemulihan klien dengan gangguan sistem endokrin khususnya Diabetes Melitus.
Diabetes Mellitus menimbulkan gangguan multi sistem dan
merupakan suatu penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat. Hal ini dapat
dilihat dengan meningkatnya jumlah klien dengan Diabetes Mellitus yang datang
ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Menurut catatan di
ruang perawatan RSU Kota Tangerang Selatan. Jumlah yang dirawat dari Januari
sampai Maret 2013 sebanyak kurang lebih 50 orang dan diantaranya meninggal.
Diabetes
Mellitus jika tidak ditangani dengan baik, maka akan mengakibatkan timbulnya
komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh
darah, saraf dan lain-lain.
Mengingat
resiko dari Diabetes Mellitus tersebut maka tindakan perawatan yang sempurna
sangat dibutuhkan.
Penyembuhan
penyakit Diabetes Mellitus tidak hanya dengan pengobatan saja, tapi yang lebih
penting adalah diet yang baik, olah raga yang teratur, dan juga pendidikan bagi
klien dan keluarga.
B.
Batasan Masalah
Pada penulisan karya tulis ini, penulis membatasi
ruang lingkup masalah hanya pada asuhan keperawatan yang diberikan pada satu klien
yang dirawat di ruang perawatan Bedah RSU Kota Tangerang Selatan pada tanggal
26 Maret sampai 30 Maret. Uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan kasus
Diabetes Mellitus sangatlah penting, karena itulah sehingga penulis membatasi
masalah hanya pada asuhan keperawatan Diabetes Mellitus yang dirawat di ruang
perawatan Bedah di RSU Kota Tangerang Selatan selama 4 hari.
C.
Tujuan Penulisan
1. Tujuan
Umum
Untuk memperoleh
informasi atau gambaran yang nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan klien
dengan komplikasi Diabetes Melitus agar mencapai terget.
2. Tujuan
Khusus
a. Untuk memperoleh gambaran tentang pengkajian fisik
pada pasien Diabetes Mellitus.
b. Untuk memperoleh gambaran tentang diagnosa perawatan
dan rencana keperawatan pada pasien Diabetes Mellitus.
c. Dapat melakukan tindakan perawatan pada pasien
Diabetes Mellitus.
d. Untuk memperoleh gambaran tentang evaluasi pelaksanaan
keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus.
e. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pasien Diabetes
Mellitus secara benar dan baik.
D. Manfaat Penulisan
1. Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan tugas
karya tulis yang akan dinilai untuk mendapat Sertifikat
2. Sebagai bahan masukan bagi tenaga keperawatan
khususnya di ruang perawatan Bedah RSU Kota Tangerang selatan tempat saya PKL
3. Bahan bacaan.
E. Sistematika
Penulisan
Untuk
memperoleh gambaran yang jelas dalam penyusunan karya tulis ini, penulis
membagi dalam lima bab, yaitu :
dan
BAB I : terdiri dari
Latar Belakang, Batasan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan dan
Sistematika Penulisan
BAB II : terdiri dari
Definisi kasus yang saya buat, Etiologi, Tanda dan Gejala juga Komplikasi yang
ada di dalam kasus yang saya tanggapi
BAB III : terdiri
dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Tindakan, dan Evaluasi
Tindakan
BAB IV : terdiri dari
Kesimpulan dan Evaluasi dan didalamnya terdapat Kesimpulan dan Saran untuk para
Siswi, Pekerja diRumah Sakit dan untuk Pembimbing PKL
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Diabetes Melitus
1. Pengertian
Diabetes Mellitus
Diabetes
Mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan
metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi
makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis (Barbara C. Long, 1995).
Diabetes
Mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem
dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin
atau kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner dan Sudarta, 1999).
Diabetes Mellitus
adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan
keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis
tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO).
Diabetes
Mellitus adalah suatu penyakit kronis yang ditemukan di seluruh dunia dengan
prevalensi penduduk yang bervariasi dari 1 – 6 % (John MF Adam).
2. Anatomi
Fisiologi Pankreas
Pankreas
adalah kelenjar majemuk bertanda dan strukturnya sangat mirip dengan kelenjar
ludah, panjang kira-kira 15 cm berat 60 – 100 gram. Letak pada daerah
umbilical, dimana kepalanya dalam lekukanduodenum dan ekornya menyentuh
kelenjar lympe, mengekskresikannya insulin dan glikogen ke darah.
Pankreas terdiri dari
tiga bahagian yaitu :
a. Kepala pankreas merupakan bahagian paling besar
terletak di sebelah kanan umbilical dalam lekukan duodenum.
b. Badan pankreas merupakan bagian utama organ itu
letaknya sebelah lambung dan depan vertebra lumbalis pertama.
c. Ekor pankreas adalah bagian runcing sebelah kiri, dan
yang sebenarnya menyentuh lympa.
Pankreas terdiri dari
dua jaringan utama yaitu :
·
Acini yang menyekresi
getah pencernaan ke duodenum.
·
Pulau langerhans yang
tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukogen
langsung ke darah.
Pulau
langerhans manusia mengandung tiga jenis sel utama yaitu sel alfa, beta dan
delta yang satu sama lain dibedakan dengan struktur dan sifat pewarnaannya. Sel
beta mengekresi insulin, sel alfa mengekresi glukagon, dan sel-sel delta
mengekresi somatostatin.
Fungsi pancreas ada
dua, maka disebut organ rangka, yaitu :
a. Fungsi eksokrin, dilaksanakan oleh sel sekretori
lobula yang membentuk getah pancreas berisi enzim dan elektrolit. Jenis-jenis
enzim dari pancreas adalah :
1.) Amylase : menguraikan
tepung menjadi maltosa atau maltosa dijadikan polisakarida dan polisakarida
dijadikan sakarida kemudian dijadikan monosakarida.
2.) Tripsin : menganalisa
pepton menjadi polipeptida kemudian menjadi asam amino.
3.) Lipase : menguraikan
lemak yang sudah diemulsi menjadi asam lemak dan gliserol gliserin.
b. Fungsi endokrin atau kelenjar tertutup berfungsi
membentuk hormon dalam pulau langerhans yaitu kelompok pulau-pulau kecil yang
tersebar antara alveoli-alveoli pancreas terpisah dan tidak mempunyai saluran.
Oleh karena itu
hormon insulin yang dihasilkan pulau langerhans langsung diserap ke dalam
kapiler darah untuk dibawa ke tempat yang membutuhkan hormon tersebut. Dua
hormon penting yang dihasilkan oleh pancreas adalah insulin dan glukagon
1). Insulin
Insulin adalah
protein kecil yang berat molekulnya 5808 untuk manusia. Insulin terdiri dari
dua rantai asam amino, satu sama lain dihubungkan oleh ikatan disulfide.
Sekresi insulin diatur oleh glukosa darah dan asam amino yang memegang peranan
penting. Perangsang sekresi insulin adalah glukosa darah. Kadar glukosa darah
adalah 80 – 90 mg/ml.
Mekanisme untuk
mencapai derajat pengontrolan yang tinggi yaitu :
a.) Fungsi hati sebagai
sistem buffer glukosa darah yaitu meningkatkan konsentrasinya setelah makan,
sekresi insulin juga meningkat sebanyak 2/3 glukosa yang di absorbsi dari usus
dan kemudian disimpan dalam hati dengan bentuk glukagon.
b.) Sebagai sistem umpan
balik maka mempertahankan glukosa darah normal.
c.) Pada hypoglikemia
efek langsung glukosa darah yang rendah terhadap hypothalamus adalah merangsang
simpatis. Sebaliknya epinefrin yang disekresikan oleh kelenjar adrenalin masih
menyebabkan pelepasan glukosa yang lebih lanjut dari hati. Juga membantu
melindungi terhadap hypoglikemia berat.
Adapun efek utama
insulin terhadap metabolisme karbohidrat, yaitu :
a.) Menambah kecepatan
metabolisme glukosa
b.) Mengurangi
konsentrasi gula darah
c.) Menambah penyimpanan
glukosa ke jaringan.
2). Glukagon
Glukagon
adalah suatu hormon yang disekresikan oleh sel-sel alfa pulau langerhans mempunyai
beberapa fungsi yang berlawanan dengan insulin. Fungsi yang terpenting adalah :
meningkatkan konsentrasi glukosa dalam darah. Glukagon merupakan protein kecil
mempunyai berat molekul 3842 dan terdiri dari 29 rantai asam amino.
Dua efek glukagon pada
metabolisme glukosa darah :
a.) Pemecahan glikogen
(glikogenesis)
b.) Peningkatan
glukogenesis
Pengatur
sekresi glukosa darah perubahan konsentrasi glukosa darah mempunyai efek yang
jelas berlawanan pada sekresi glukagon dibandingkan pada sekresi insulin, yaitu
penurunan glukosa darah dapat menghasilkan sekresi glukagon, bila glukagon
darah turun 70 mg/100 ml darah pancreas mengekresi glukosa dalam jumlah yang
sangat banyak yang cepat memobilisasi glukosa dari hati. Jadi glukagon membantu
melindungi terhadap hypoglikemia.
3. Patofisiologi
Sebagian
besar patologi Diabetes Mellitus dapat dikaitkan dengan satu dari tiga efek
utama kekurangan insulin sebagai berikut :
(1)
Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, dengan akibat peningkatan
konsentrasi glukosa darah setinggi 300 sampai 1200 mg/hari/100 ml.
(2)
Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah-daerah penyimpanan lemak, menyebabkan
kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lipid pada dinding vaskuler yang
mengakibatkan aterosklerosis.
(3)
Pengurangan protein dalam jaringan tubuh.
Akan
tetapi selain itu terjadi beberapa masalah patofisiologi pada Diabetes Mellitus
yang tidak mudah tampak yaitu kehilangan ke dalam urine penderita Diabetes
Mellitus. Bila jumlah glukosa yang masuk tubulus ginjal dan filtrasi glomerulus
meningkat kira-kira diatas 225 mg.menit glukosa dalam jumlah bermakna mulai
dibuang ke dalam urine. Jika jumlah filtrasi glomerulus yang terbentuk tiap
menit tetap, maka luapan glukosa terjadi bila kadar glukosa meningkat melebihi
180 mg%.
Asidosis
pada diabetes, pergeseran dari metabolisme karbohidrat ke metabolisme telah
dibicarakan. Bila tubuh menggantungkan hampir semua energinya pada lemak, kadar
asam aseto – asetat dan asam Bihidroksibutirat dalam cairan tubuh dapat
meningkat dari 1 Meq/Liter sampai setinggi 10 Meq/Liter.
4. Klasifikasi
Berdasarkan
klasifikasi dari WHO (1985) dibagi beberapa type yaitu :
a. Diabetes Mellitus type insulin, Insulin Dependen
Diabetes Mellitus (IDDM) yang dahulu dikenal dengan nama Juvenil Onset Diabetes
(JOD), penderita tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya
ketoasidosis dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia muda
dapat disebabkan karena keturunan.
b. Diabetes Mellitus type II, Non Insulin Dependen
Diabetes Mellitus (NIDOM), yang dahulu dikenal dengan nama Maturity Onset
Diabetes (MOD) terbagi dua yaitu :
1.) Non obesitas
2.) Obesitas
Disebabkan karena
kurangnya produksi insulin dari sel beta pancreas, tetapi biasanya resistensi
aksi insulin pada jaringan perifer.
Biasanya terjadi pada
orang tua (umur lebih 40 tahun) atau anak dengan obesitas.
c. Diabetes Mellitus type lain
1.) Diabetes oleh
beberapa sebab seperti kelainan pancreas, kelainan hormonal, diabetes karena
obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin, kelainan genetik dan lain-lain.
2.) Obat-obat yang dapat
menyebabkan huperglikemia antara lain :
Furasemid, thyasida
diuretic glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik
3.) Diabetes Gestasional
(diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama kehamilan, tidak dikelompokkan
kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan meningkat sekresi hormon pertumbuhan
dan hormon chorionik somatomamotropin (HCS). Hormon ini meningkat untuk
mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus.
B. Etiologi
Etiologi
dari Diabetes Mellitus sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti dari
studi-studi eksperimental dan klinis kita mengetahui bahwa Diabetes Mellitus
adalah merupakan suatu sindrom yang menyebabkan kelainan yang berbeda-beda
dengan lebih satu penyebab yang mendasarinya.
Menurut
banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu :
a. Faktor genetik
Riwayat keluarga
dengan diabetes :
Pincus dan White
berpendapat perbandingan keluarga yang menderita Diabetes Mellitus dengan
kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita
Diabetes Mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan
keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.
b. Faktor non genetik
1.) Infeksi
Virus dianggap
sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic
terhadap Diabetes Mellitus.
2.) Nutrisi
a.) Obesitas dianggap
menyebabkan resistensi terhadap insulin.
b.) Malnutrisi protein
c.) Alkohol, dianggap
menambah resiko terjadinya pankreatitis.
3.) Stres
Stres berupa
pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan
hyperglikemia sementara.
4.) Hormonal
Sindrom cushing
karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah
somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah
tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat
C.
Tanda dan Gejala
Gejala
yang lazim terjadi, pada Diabetes Mellitus sebagai berikut :
Pada tahap awal
sering ditemukan :
a.
Poliuri (banyak
kencing)
Hal ini disebabkan
oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal
terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak
menarik cairan dan elektrolit sehingga penderita mengeluh banyak kencing.
b.
Polidipsi (banyak
minum)
Hal ini disebabkan
pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga
untuk mengimbangi penderita lebih banyak minum.
c.
Polipagi (banyak
makan)
Hal ini disebabkan
karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Berat badan
menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang. Hal ini disebabkan kehabisan
glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat
peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein.
d.
Mata kabur
Hal ini disebabkan
oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan
karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa,
sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
D. Penatalaksanaan
Tujuan
utama penatalaksanaan klien dengan Diabetes Mellitus adalah untuk mengatur
glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Jika klien
berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya, ia akan terhindar dari
hyperglikemia atau hypoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada
ketepatan interaksi dari tiga faktor aktifitas fisik, diet dan intervensi
farmakologi dengan preparat hyperglikemik oral dan insulin. Penyuluhan
kesehatan awal dan berkelanjutan penting dalam membantu klien mengatasi kondisi
ini.
E. Komplikasi
a. Akut
1.) Hypoglikemia
2.) Ketoasidosis
3.) Diabetik
b. Kronik
1.) Makroangiopati,
mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung pembuluh darah tepi,
pembuluh darah otak.
2.) Mikroangiopati
mengenai pembuluh darah kecil retinopati diabetik, nefropati diabetic.
3.) Neuropati
diabetic.
BAB III
TINJAUAN KASUS
I.
DATA DEMOGRAFI
A.
BIODATA
-
Nama ( nama lengkap,
nama panggilan ) : Tn. I
-
Usia / tangal lahir : 51th
-
Jenis kelamin :
Laki-laki
-
Alamat ( lengkap
dengan no.telp ) : Mabad 25
RT 09/05 Ciputat Timur
-
Suku / bangsa :
Betawi
-
Status pernikahan :
Menikah
-
Agama / keyakinan : Islam
-
Pekerjaan / sumber
penghasilan : Buruh
-
Tgl Masuk
RS : 7
– 3 – 2013
-
Tgl
Pengkajian : 26
– 3 – 2013 sampai tanggal 30 – 3 – 2013
-
No.
Register : 36
70 2
-
Diagnosa
Medis : DM
Type I disertai dengan luka dikaki kanan yang tidak kunjung sembuh dan ada
nanah di dalam luka tersebut
-
Therapy medik :
B.
Penanggung
Jawab
-
Nama :
Sri Astuti
-
Usia :
45th
-
Jenis Kelamin :
Perempuan
-
Pekerjaan / sumber penghasilan : Ibu rumah tangga
-
Hubungan dengan klien :
Istri
II. Riwayat Penyakit
A. KELUHAN UTAMA
Klien mengatakan lemas serta nyeri di bagian kaki
kanan dengan mengeluarnya nanah membuat klien tidak bisa menjalankan aktivitas
yang berat
B.
RIWAYAT
PENYAKIT SEKARANG
Klien datang pertama kali ke UGD di siang hari pada
tanggal 7 maret 2013 dengan keluhan nyeri di kaki bagian kanan, terlihat dengan
luka yang membengkak serta mengeluarkan nanah dan wajah klien pucat pasi lalu
yang menanganinya adalah perawat UGD dan langsung menganjurkan bahwa pasien
harus di rawat inap agar kesehatannya kembali pulih.
C . RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU
·
Klien menderita
penyakit kronis (Diabetes Mellitus ± 6 tahun yang
lalu)
·
Klien mengatakan
beliau memang merokok dengan pola hidup yang tidak baik
·
Klien tidak pernah
operasi
·
Tidak ada riwayat alergi
·
Klien mengatakan
Riwayat Penyakit Keluarganya adalah
D. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Ibu : Diabetes
Melitus
Ayah : jantung
Anak : pernah dirawat
di RS karena penyakit DHF
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum
1)
Tingkat kesadaran :
Composmetis
2)
Orientasi ( waktu, orang & tempat ) : Baik
3)
Bahasa & Memori :
Untuk bahasa dan memori klien cukup jelas berbicara dan mengingat tentang
bagaimana bisa terjadi penyakit Diabetes pada pasien itu sendiri
4)
Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi : 97 kali/menit
Pernapasan : 27 kali/menit
Suhu : 36,3̊ C
B. Berat Badan & Tinggi Badan
Berat Badan : 63 Kg
Tinggi Badan : 160 Cm
IV. AKTIFITAS SEHARI – HARI
A. Nutrisi
-
Selera makan :
Baik
-
Menu makan selama 24 jam : Nasi, lauk pauk, sayur, buah, makanan ringan dll.
-
Frekuensi makan selama 24 jam : 3x sehari
-
Makanan yang disukai dan makanan yang dipantang : Orek tempe dan karena klien
menderita penyakit Diabetes maka makanan yang dipantang adalah makanan yang
terlalu mengandung gula. Tapi karena klien bandel dan susah dibilangin dan ngga
mau dipantang akhirnya Tidak Ada Makanan Yang Dipantangnya
-
Pembatasan pola makan : -
-
Cara makan ( bersama keluarga, alat makan yang
digunakan ) : Makan bersama keluarga
di meja makan dan menggunakan Piranti untuk makan seperti sendok, piring dan
gelas
-
Ritual sebelum makan : Klien mengatakan biasanya klien minum
air putih dahulu sebelum makan dan dilanjutkan dengan menbaca do’a
B. Cairan
-
Jenis cairan yang dikonsumsi dalam 24 jam : Air putih, teh dan kopi tapi terkadang
klien bisa meminum minuman softdrink
-
Frekuensi minum
: Kalau air putih hanya seperlunya saja atau ketika klien sedang makan
maka klien memilih Air Putih, untuk kopi hanya pada saat pagi hari saja dan
saat bersantai klien mengatakan minum air teh yang manis dengan camilan-camilan
ringan
-
Kebutuhan cairan dalam 24 jam : Kurang lebih hanya 5 gelas dalam sehari
C. Eliminasi ( BAB &
BAK )
-
Tempat
pembuangan : WC
-
Frekuensi ? Kapan ?
Teratur ? : Tidak menentu, tapi
terkadang bisa untuk BAB 2x sehari, pagi dan sore, teratur dan untuk BAK bisa
mencapai 5x dalam sehari dan teratur juga
D. Istirahat Tidur
-
Apakah cepat
tertidur : Klien mengatakan bahwa
susah tidur ketika malam karena nyeri yang diderita
-
Jam tidur
(siang/malam) : Tidur siang ± 3 jam.
Dari jam 1 s/d 3. Tidur malam ± 7 jam dari jam 10 malam s/d
5 subuh
-
Apakah tidur secara
rutin : Rutin
E. Olahraga
-
Program olahraga
tertentu : Lari dan voly
-
Berapa lama melakukan
dan jenisnya : kurang lebih 2 jam
jenisnya adalah lari dan bola voly
-
Perasaan setelah
melakukan olahraga : Seger dan merasa
bugar
F.
Rokok / alkohol atu obat-obatan
-
Apakah merokok ?
jenis ? berapa banyak ? kapan mulai merokok ? : Klien mengatakan bahwa beliau merokok,
jenisnya Gudang Garam, kadang bisa ½ bungkus dan telah dimulai sejak klien SMP
-
Apakah minum-minuman
keras ? Berapa minum/hri/minggu ? Jenisn minuman ? apakah banyak minum ketika
stres ? Apakah minuman keras
-
mengganggu prestasi kerja ? : Klien mengatakan bahwa klien pernah
meminum minuman keras
-
Kecanduan kopi,
alkohol, teh atau minuman ringan ? :
Klien mengatakan bahwa klien kecanduan terhadap kopi, teh dan minuman ringan
-
Apakah mengkonsumsi
obat dari dokter (marihuana, pil tidur, obat bius) : klien mengatakan jika sulit tidur klien
akan mengkonsumsi obat tidur
G. Personal Higien
-
Mandi (frekuensi,
cara, alat mandi, kesulitan, mandiri/dibantu) : Klien mengatakan bahwa klien mandi 3x
dalam sehari dengan cara seperti orang mandi pada umumnya, alat mandinya umum
seperti gayung, sikat gigi, pasta gigi, sabun, shampoo, dan air. Klien juga
mengatakan bahwa klien tidak kesulitan dan melakukan semuanya secara mandiri
-
Cuci rambut : 1 hari satu kali
-
gunting kuku : klien mengatakan bahwa klien hanya
gunting kuku pada saat kukunya panjang kurang lebih 2 minggu sekali
-
Gosok gigi : 2x sehari
H. Aktivitas atau
Mobilitas
-
Kegiatan sehari-hari : Berangkat ke kantor,
pergi pagi pulang pada malam hari
-
Pengaturan jadwal
harian : -
-
Penggunaan alat bantu
aktivitas : -
-
Kesulitan pergerakan
tubuh : Klien mengatakan bahwa dalam
kesulita pergerakan tubuh sering kali terjadi pada saat habis duduk yang lama
maka kaki kanan akan terasa nyeri yang sangat berlebihan
I. Rekreasi
-
Bagaimana perasaan
anda saat bekerja : Sangat capek,
terkadang jenuh dengan aktifitas
-
Berapa banyak waktu
luang : Hanya 2
hari saja
-
Apakah puas setelah
rekreasi : Sangat
puas
-
Apakah anda dan
keluarga menghabiskan waktu senggang :
Klien mengatakan bahwa sering menghabiskan waktu senggang bersama anak dan
cucunya
-
Bagaimana perbedaan
hari libur dan hari kerja : Sangat
berbeda karena disaat waktu kerja fikiran terasa jenuh dan capek sedangkan saat
hari libur klien merasa sangat bahagia karena bisa meluangkan waktu untuk
keluarga
Pola kebiasaan sehari – hari
|
Pola kebiasaan
Nutrisi.
|
Sebelum masuk RS
|
Sewaktu masuk RS
|
|
Makan
|
Enak, klien
mengatakan bisa menghabiskan sehari 3-4 piring nasi berserta lauk-pauknya,
ditambah lagi dengan camilan-camilan yang dibelinya di supermarket
|
Klien mengatakan
bahwa sewaktu di RS tidak bisa makan secara enak karna katanya “anta” tapi
teratur
|
|
Frekuensi
|
3-4 kali dalam
sehari, ditambah camilan-camilan
|
Dibatasi secara
makan
|
|
Jenis
|
Nasi, buah, sayuran,
ikan, beserta camilan yang ada di supermarket
|
Diet rendah gula
|
|
Alergi
|
Tidak ada alergi
terhadap makanan
|
Tidak ada alergi
terhadap makanan
|
|
Keluhan
|
-
|
Selama dirawat,
klien terus menerus mengeluh karena makanannya tidak sesuai deng apa yang
klien mau
|
|
Minum
|
|
± 4 gelas dalam
sehari
|
|
Jumlah
|
± 1,5 Liter
|
± ½
Liter
|
|
Jenis
|
Air putih, teh,
kopi, dan softdrink
|
Air putih saja
|
|
Keluhan
|
-
|
-
|
|
Pola Kebiasaan
Eliminasi
|
Sebelum masuk RS
|
Sewaktu Di RS
|
|
BAK
|
Teratur
|
Tidak teratur
|
|
Frekuensi
|
± 5 kali
|
±2 kali
|
|
Jumlah
|
± 1500 cc/hari
|
± 500 cc/hari
|
|
Warna
|
Putih pucat
|
Putih, kuning pekat
|
|
Keluhan
|
-
|
Klien mengatakan
pada saat BAK mengapa Urine-nya menjadi berubah warna dan berbau obat
|
|
BAB
|
Teratur
|
Sangat tidak
teratur
|
|
Frekuensi
|
2x sehari biasanya
pagi dan sore hari
|
Kadang 2 hari
sekali baru bisa BAB
|
|
Konsistensi
|
Padat berisi
|
Kadang sangat padat
sekali tapi kadang sangat encer
|
|
Warna
|
Kecoklatan
|
Coklat agak hitam
|
|
Keluhan
|
-
|
Kadang terasa sakit
saat BAB
|
|
Istirahat
|
|
|
|
Tidur siang
|
Jarang
|
± 5 jam. Dari jam 1
siang – 5 sore.
|
|
Tidur
|
Sangat cepat, jam 9
sudah tidur
|
Kadang klien
mengidap insomnia karena klien harus merasakan nyeri di malam hari
|
|
Keluhan
|
-
|
-
|
|
Personal hygiene
|
|
|
|
Mandi
|
Teratur
|
Sangat tidak
teratur
|
|
Frekuensi
|
3x sehari
|
Jarang mandi
|
|
Metode
|
Pakai gayung
|
Hanya diseka
|
|
Keluhan
|
-
|
-
|
|
Keramas
|
Teratur
|
Sangat tidak
teratur
|
|
Frekuensi
|
1 hari 1x
|
Jarang, bahkan bisa
sampai seminggu tidak keramas
|
|
Menggunakan
|
Shampoo
|
Shampoo
|
|
Keluhan
|
-
|
-
|
|
Gosok gigi
|
|
|
|
Frekuensi
|
2x dalam 1 hari
|
Jarang sikat gigi
|
|
Menggunakan
|
Sikat dan pasta
gigi
|
Sikat dan pasta
gigi
|
|
Keluhan
|
-
|
Klien mengeluh pada
saat disikat, giginya berdarah
|
|
Gunting kuku
|
|
|
|
-
Frekuensi
|
Seminggu 1x
|
Jarang sekali
menggunting kuku
|
|
Keluhan
|
-
|
Klien mengeluh
kukunya sakit dan terasa bau juga tidak enak
|
V. TEST DIASNOSTIK
-
Laboratorium :
·
GDS Per-2 jam
200mg/dl
·
GDS Per-4 jam 226mg/dl
-
Ro Foto : -
-
CT Scan : -
-
MRI, USG, EEG, ECG
dll : -
VI. TERAPI OBAT
·
Ciprofloxacin 0,2
gr/rj ( Intra Vena )
·
Ketorolac 1a
drip/8jam ( IntraVena )
·
Cefriaxone 2x2 gr (
Intra Vena )
·
RL, NACL 20TPM/mnt (
IUFD )
·
Antibiotik ( Oral )
·
Metronidazole 3
x 500 mg/hari ( Oral )
·
Pletal 2
x 1 tablet/hari ( Oral )
·
Neurosambe 1
x 1 tablet/hari ( Oral )
C. Diagnosa Keperawatan
Analisa Data
|
Data Fokus
|
Etiologi
|
Diagnosa
Keperawatan
|
|
DS : Klien mengatakan bahwa nyeri di bagian kaki
kanan serta pusing, kulit gatal dan kering, kesemutan terus menerus dan kram
otot
DO : Klien tampak;
·
nanah di bagian
luka lama
·
tanda-tanda infeksi
sudah ada
·
suhu tubuh yang
naik
·
kesadaran
composmentis
·
kesehatan sakit
sedang
·
kulit klien tampak
memera
·
cek GDS
·
setelah di TTV
-
suhu : 38.0̊C
-
nadi : 79x/m
-
pernapasan : 23x/m
-
tekanan darah :
130/90 mmHg
|
Penyebab terjadinya kekurangan insulin dan adanya faktor herediter yang memegang
peranan penting di data subjektif
|
Resiko infeksi berhubungan dengan hiperglikemia
|
|
DS : Klien mengatakan lemas sehabis diberi insulin juga
tidak nafsu makan dan kaki tetap nyeri
DO : Klien memang tetap tampak pucat
·
tanda-tanda infeksi
makin terlihat karena dibagian kaki kanan sudah ada nanah, kemerahan disertai
dengan panas tubuh
·
IUFD nampak
terpasang
·
setelah di TTV
-
suhu 37.9
-
nadi 92
-
pernapasan 18
-
tekanan darah
130/90 mmHg
|
Penyebab terjadinya lemas karena pemberian insulin
|
Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan nafsu makan
|
|
DS : Klien mengatakan tidak bisa menjalankan
aktifitas seperti biasa dan kaki kanan klien minta di ganti perban
DO : Klien nampak segar karena habis mandi
·
IUFD terpasang
dengan cairan RL
·
kesadaran
composmentis
·
keadaan umum sakit
sedang
·
perban klien nampak
terlihat nanah yang keluar dan mengeluarkan bau yang khas
·
klien tampak sedang
makan namun makannya hanya ½ nya saja
·
setelah di TTV
-
suhu 37.3
-
nadi 81
-
pernapasan 20
-
tekanan darah
130/60 mmHg
·
klien juga nampak
teriak-teriakan seakan-akan tidak betah dengan keadaan Rumah Sakit
|
Penyebab terjadinya lemas akibat tekanan darah
Diastolnya cukup rendah jauh dari observesi yang dilakukan kemarin siang.
Klien juga menghabiskan makannya hanya ½ porsi yang disajikan
|
Penurunan aktifitas berhubungan dengan kelemahan
fisik
|
|
DS : Klien mengatakan ingin pulang saja karena sudah
tidak betah dengan keadaan rumah sakit
DO : Klien nampak meminta keluarganya untuk pulang
saja
·
perawat mencoba
memberi pengetahuan tentang resiko penyakit klien kalau klien tetap ingin
meminta pulang
·
ttv
-
suhu : 37.1
-
nadi : 80
-
|
|
|
D. Diagnosa Keperawatan, Rencana,
Tindakan & Evaluasi
Asuhan Keperawatan
|
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan lemasnya
tubuh dan tetap terjadi infeksi pada kaki kanan klien
|
·
Konsul dengan
dokter spesialis bedah
·
TTV klien
·
Pemeriksaan GDS
·
Pemeriksaan kaki
pasien
|
·
Klien dianjurkan
mengkonsul dahulu ke dokter spesialis bedah untuk di tindak lanjut dan
mendapat perawatan yang layak sesuai dengan penyakitnya
·
Melakukan
pemeriksaan TTV
·
Melakukan
pengecekan GDS untuk mengetahui kadar gula darah klien
·
Memeriksakan kaki
klien agar mengetahui seberapa beratnya luka di kaki kanan klien
|
S : Klien mengatakan bahwa nyeri di bagian kaki
kanan serta pusing dan mual
O : Klien tampak pucat pasi sejak datang ke RS
dengan mengeluh
·
kaki sakit
·
terdapat nanah di
bagian luka lama
·
terlihat
tanda-tanda infeksi
·
suhu tubuh yang
meningkat
Kesadaran composmentis
Gula darah klien diatas batas normal yaitu 200mg/dl,
setelah di TTV
·
suhu : 39,1
·
nadi : 92
·
pernapasan : 22
·
TD : 130/90
A : Masalah belum teratasi
-
gangguan rasa
nyaman (nyeri)
-
adanya infeksi pada
luka
P : Intervensi dilanjutkan
|
|
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan lemasnya
tubuh dan tetap terjadi infeksi pada kaki kanan
|
·
Observasi keluhan
utama klien
·
Ukur TTV
·
Memberikan terapi
sesuai advice dokter
·
Monitori tetesan
infus
·
Cek GDS
·
Kompres klien jika
suhu tetap tinggi
|
·
Mengobservasi
keluhan utama klien
·
Mengukur TTV
-
suhu : 38,5
-
nadi : 88x/m
-
RR : 20x/m
-
TD : 130/60mmHg
·
Memonitori tetesan
infus
·
Mengecek GDS
·
Mengkompres klien
|
S : Klien mengatakan dia lemas sehabis mengkonsumsi
obat juga tidak nafsu makan dan kakinya sangat nyeri
O : Klien tampak lemas dan pucat
·
tanda-tanda infeksi
makin terlihat karena di bagian kaki kanan sudah ada nanah, kemerahan
disertai panas tubuh
·
IUFD nampak
terpasang
·
setelah di TTV
-
suhu 38,5
-
nadi 88x/m
-
RR : 20x/m
-
TD : 130/60 mmHg
A : Masalah
belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
|
|
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan panas badan
yang cukup tinggi mengakibatkan tidak nafsu makan dan nyeri yang masih
menyerang dibagian kaka kanan klien tidak begitu nyaman dengan keadaan.
|
·
Observasi keluhan
utama klien
·
Ukur TTV
·
Motifasi klien agar
tetap mau makan walau hanya sedikit
·
Kompres air hangat
pada luka kaki kanan klien
·
GV kaki klien
·
Observasi tetesan
infus
·
Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk makanan klien
|
·
Mengobservasi
keluhan klien
·
Mengukur TTV
·
Memotifasi klien
agar tetap mau makan walau hanya sedikit
·
Mengompres air
hangat pada luka kaki klien
·
MengGV kaki klien
·
Mengobservasi
tetesan infus
·
Mengkolaborasi ahli
gizi untuk makanan diet rendah gula klien
|
S : Klien mengatakan pusing kepala, lemasnya
berkurang tapi kaki kanan tetap nyeri yang amat sangat dan klien minta di
ganti perban
O : Klien tampak pucat namun tidak pasi
·
IUFD tampak
terpasang dengan cairan RL
·
kesadaran
composmentis
·
perban klien tampak
kotor dengan bercampur nanah
·
kaki klien tampak
sudah mengeluarkan bau dan nanah
·
klien tampak sedang
makan namun hanya ½ porsi saja yang dihabiskan
·
setelah di TTV
-
suhu :37,5
-
nadi : 88x/m
-
RR : 20
-
TD : 120/60 mmHg
·
klien pun tampak
teriak-teriak seakan-akan tidak betah dengan keadaan RS
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
|
|
Penurunan aktivitas dan gangguan rasa nyaman pada
kaki yang luka serta mengeluarkan nanah mengakibatkan klien merasa risih dan
malu.
|
·
TTV klien
·
GV kaki klien
·
Fokus pada nanah
yang keluar
·
Motivasi klien agar
tidak malu
·
Monitori tetesan
infus
·
Berikan terapi obat
sesuai advice dokter
·
Terapi insulin jika
GDS-nya diatas 200 mmHg
|
·
MenTTV klien
-
suhu : 37,2
-
nadi : 87x/m
-
RR : 81X/M
-
TD : 130/80 mmHg
|
S : Klien mengatakan badannya lemas dan pusing di
kepalanya
O : Klien tampak lemah
·
conjungtiva nampak
pucat
·
terapi insulin
25-10-10
·
tampak nanah yang
keluar dari perban
·
luka lama semakin
membesar akibat infeksi yang akut karena adanya penyakit komplikasi lain
seperti Diabetes Melitus
·
IUFD tampak
terpasang
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
|
|
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan terjadinya
infeksi yang sudah lama namun pasiennya tidak bisa menjaga kebersihan
|
·
Konsul dengan
dokter spesialis bedah
·
Anjurkan klien
untuk menjaga Higienitas
·
TTV
·
Observasi keluhan
utama klien
·
Monitori tetesan
infus
·
Berikan terapi obat
sesuai advice dokter
|
·
Mengkonsultasi
dengan dokter
·
MenTTV klien
·
Mengobservasi
keluhan utama klien
·
Memonitori tetesan
infus
·
Menganjurkan klien
agar tetap menjaga Higienitas
·
Memberikan terapi
sesuai advice dokter
|
S : Klien mengatakan bahwa kaki sakit dengan frekuensi
yang mulai sedikit tapi kaki tetap mengeluarkan nanah
O : Klien tampak lemas
·
kaki mengeluarkan
nanah
·
IUFD tampak
terpasang
·
setelah diTTV
-
suhu : 37,5
-
nadi : 85x/m
-
TD : 120/60 mmHg
-
RR : 20x/m
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
|
|
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan luka lama
yang dialami klien serta komplikasi penyakit Diabetes Melitus yang sudah
cukup lama
|
·
TTV klien
·
Terapi obat sesuai
advice dokter
·
Observasi keluhan
utama klien
·
Anjurkan untuk
tidak memakan makanan dari luar
|
·
Meng-TTV klien
·
Memberi terapi obat
sesuai advice dokter
·
Mengobservasi
keluhan utama klien
·
Menganjurkan klien
untuk tidak memakan dari luar
|
S : Klien mengatakan kakinya nyari serta badan
panas-dingin
O : Klien nampak kedinginan dan ada bekas abu rokok
di westafel tempat klien dirawat. serta ada bungkus permen dan minuman
softdrink yang terdapat dimeja klien
-
klien di cek GDSnya
384 mg/dl
-
suhu : 37, 4
-
nadi : 95x/m
-
RR : 20x/m
-
TD : 110/60 mmHg
-
IUFD akan dilepas
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dihentikan
|
|
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kaki kanan
yang susah digerakan akibat jarang beraktivitas
|
·
Berikan obat
penahan rasa nyeri
·
TTV klien
·
Anjurkan untuk
sering bergerak
·
GV kaki klien
·
Berikan terapi obat
sesuai advice dokter
·
Observasi tetesan
infus
|
·
Memberikan obat
penahan rasa nyeri
·
Men-TTV klien
·
Menganjurkan untuk
sering bergerak
·
Meng-GV kaki klien
·
Memberikan terapi
obat sesuai advice dokter
|
S : Klien mengatakan nyeri di bagian kaki kanan
dengan frekuensi ± 3 jam. Klien juga mengatakan luka di kaki kanannya
membesar namun setelah kaki klien di GV, nanah di klien menjadi berkurang
O : Klien tampak terlihat segar dari biasanya
·
kaki klien nampak
bersih dan jarang ada nanah yang keluar
·
porsi makan klien
juga tampak habis
·
klien tidak mengeluh
sakit ataupun panas dingin
·
IUFD tampak
terpasang yaitu cairan RL 20 TPM/m
·
klien menghabiskan
obat yang dianjurkan
·
tapi, nampak klien
susah dalam berjalan
·
setelah di TTV
-
suhu : 36,3
-
nadi : 81
-
RR : 20
-
TD : 120/80 mmHg
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi di lanjutkan
|
|
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kaki yang
tidak bisa digerakan dikarenakan otot tendong yang putus karena sudah rusak
dan membusuk
|
·
Periksa kaki klien
·
Diskusikan dengan
dokter spesialis Tn.I
·
TTV
·
Berikan penyuluhan
agar klien dapat memahami situasi
·
GV kaki klien
|
·
Memeriksakan
keadaan kaki klien
·
Mendiskusikan
dengan dokter spesialis Tn.I
·
Men-TTV klien
·
Memberikan
penyuluhan kepada klien agar klien dapat memahami situasi
·
Meng-GV kaki klien
|
S : Klien mengatakan kakinya sudah tidak bisa
digerakkan meskipun dipaksa untuk berjalan, klien juga nampak memaksa ingin
pulang saja
O : Klien nampak tidak betah berada dirumah sakit
·
klien memang nampak
tidak bisa berjalan walaupun klien sudah mencoba
·
IUFD tampak tidak
terpasang
·
setelah di TTV
-
suhu : 37,0
-
nadi : 81x/m
-
RR : 20x/m
-
TD : 120/90 mmHg
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
|
|
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan rasa tidak
nyamannya klien saat berada di ruangan
|
·
Up infus
·
Konsul dengan
dokter untuk persetujuan pulang
|
·
Meng-up infus klien
·
Menganjurkan
konsultasi ke dokter sebelum pulang
|
S : Klien mengatakan ingin pulang saja
O : Klien nampak tidak betah
·
klien tidak bisa
berjalan
·
aktifitas mulai
menggunakan kursi roda dan tongkat untuk menyangga kaki
·
IUFD sudah nampak
tidak terpasang
·
Perawat meng-up
infus klien
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dihentikan
|
BAB IV
KESIMPULAN DAN EVALUASI
Kesimpulan
dalam suatu asuhan keperawatan atau proses keperawatan adalah adanya ketidak sesuaian
antara teori dan kenyataan yang ditemukan di lapangan.
Dalam
asuhan keperawatan yang diberikan pada Tn. I dengan gangguan sistem endokrin
akibat Diabetes Mellitus, juga ditemukan beberapa kesenjangan. Untuk memudahkan
dalam memahami kesenjangan yang terjadi, maka penulis membahas sebagai berikut
:
A. Pengkajian
Pengkajian
yang ditemukan pada kasus ini terdapat kesenjangan yaitu pasien tidak mengalami
gejala utama pada Diabetes Mellitus, yaitu poliuri, polipagi, tetapi klien
hanya mengeluh kelemahan tubuh, kurang nafsu makan dan berat badan menurun.
Tidak
ditemukan ketiga gejala utama diatas mungkin disebabkan karena adanya therapy
pemberian insulin yang adekuat.
B. Perencanaan
Pada
kasus ini penulis mengangkat/ temukan empat diagnosa keperawatan, tetapi secara
umum yang termuat dalam teori keadaan pasien Diabetes Mellitus ada tujuh
diagnosa keperawatan yakni :
1. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan
diuresis osmotik.
2. Perubahan status nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan
masukan oral.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan hyperglikemia.
4. Resiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori
berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa/insulin dan atau elektrolit.
5. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi
metabolik.
6. Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka
panjang/progresif yang tidak dapat diobati, ketergantungan pada orang lain.
7. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan
kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/menginat, keselahan
interpretasi informasi.
Pada
kasus ini penulis menemukan dua diagnosa keperawatan yang tidak ada pada teori
yaitu :
1. Penurunan aktifitas berhubungan dengan kelemahan
fisik.
Hal ini diangkat
karena klien tidak mampu melakukan aktifitasnya sendiri.
2. Resiko terjadi hypoglikemia berhubungan dengan
pemberian insulin
Hal ini diangkat
karena pemberian terapi insulin yang terus menerus tanpa memantau kadar gula
darah akan menyebabkan hyperglikemia.
Pada
kasus ini penulis tidak mengangkat diagnosa utama yaitu kekurangan volume
cairan karena pada pasien tidak ditemukan adanya gejala-gejala deficit volume
cairan, seperti : out put urine meningkat, tachicardi dan evaporasi.
Diagnosa
resiko tinggi tehadap perubahan persepsi sensori, kelelahan dan ketidak
berdayaan serta kurang pengetahuan, tidak ditemukan dalam tinjauan kasus, hal
ini disebabkan karena klien sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit
selama ± 1 bulan sehingga kondisi penyakit klien sudah
mulai membaik.
C. Pelaksanaan
Pelaksanaan
seluruh tindakan keperawatan yang dilakukan selalu berorientasi pada rencana
yang telah dibuat terlebih dahulu. Pelaksanaan tindakan keperawatan yang
berdasarkan teoritis ada yang belum terlaksana, semua ini disebabkan karena
keadaan/sifat klien yang berbeda dan jenis perawatan yang dilaksanakan di ruang
perawatan disesuaikan dengan keadaan dan sarana serta fasilitas yang tersedia.
D. Evaluasi
Dalam
teori pada evaluasi yang ditentukan adalah keadaan atau kriteria pencapaian
tujuan sesuai rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan.
Pada
studi yang ditangani melalui pendekatan proses keperawatan sebagai metode
pemecahan masalah, maka dari 4 (empat) diagnosa keperawatan yang muncul/diangkat,
2 (dua) diantaranya teratasi dengan baik yaitu :
1. Penurunan aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
Sedangkan
dua diagnosa resiko yang diangkat, selama pelaksanaan studi kasus, tidak
terjadi yaitu :
3. Resiko terjadi hypoglikemia berhubungan dengan
pembatasan diet dan terapi insulin.
4. Resiko perluasan infeksi berhubungan dengan
hyperglikemia.
Hal
ini dapat dicapai karena klien dan keluarga sangat kooperatif dalam pelaksanaan
tindakan keperawatan dan kerjasama yang baik dengan tim kesehatan lain, dan
untuk mempertahankan agar kedua diagnosa resiko tersebut tidak menjadi aktual,
penulis telah mendelegasikan ke petugas ruangan untuk melanjutkan penerapan
proses keperawatan pada klien tersebut.
Setelah menyelesaikan
studi kasus pada klien Tn. I dengan gangguan sistem endokrin ; Diabetes
Mellitus di ruang Perawatan bedah Anyelir 3 bed 1 RSU Kota Tangerang Selatan,
dengan bertitik tolak pada pembahasan bab sebelumnya maka penulis dapat menarik
kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut :
1. Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit kronik yang
menimbulkan gangguan multisistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang
disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat.
2. Pengkajian data penyakit Diabetes Mellitus dapat
memberikan hasil bervariasi antara pasien satu dengan yang lain. Pada umumnya
data dan gejala yang ditemukan timbul sebagai akibat terjadinya kekurangan
insulin sehingga glukosa tidak masuk ke dalam sel.
3. Perawatan dan pengobatan Diabetes Mellitus terdiri
dari diet, yang merupakan hal yang sangat berperan, latihan fisik yang tepat,
obat-obatan dan juga pendidikan kesehatan mengenai penyakit tersebut.
E. Saran-saran
1. Untuk Sekolah
Diharapkan agar sekolah bisa
mampersiapkannya dengan baik agar lebih terlaksana dalam kegiatan magang ini.
Contohnya, Nametag yang seharusnya dibagikan sebelum PKL dilaksanakan dan
bentuknya tidak harus kertas tetapi seperti pada umumnya Nametag. Lalu baju
untuk Keperawatan, seharusnya lebih rapih dari yang ini. Bahan baju keperawatan
yang berwarna putih sangat tipis dan tidak bagus.
2. Untuk Rumah Sakit
Diharapkan agar mau lebih menghargai siswa/i yang
PKL. Terkadang selalu dianggap rendah karena tidak yakin dengan kemampuan anak
PKL
3. Untuk Siswa
Agar lebih mau mendengarkan dan belajar banyak dari
kekurangan tentang Asuhan Keperawatan dan tetap bersikap dan menjaga nama baik
sekolah
Daftar Pustaka
Arjatmo
Tjokronegoro, Prof. dr. Ph.D, Hendra Utama,1999, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Edisi III, EGC. Jakarta.
Barbara
C. Long, 1996, Perawatan Medikal Bedah , Ikatan Alumni
Pendidikan Padjajaran Bandung.
Boedi
Sarwono, 1984, Segi Praktis Diagnostik Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Guyton,
1987, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, EGC,
Jakarta.
Hotma
Purmoharjo, SKp, 1994, Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem
Endokrin, EGC, Jakarta.
Marylinn
E. Doenges, dkk, 1994, Rencana Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan
Sistem Endokrin, EGC Jakarta.
Purnawan
Junadi, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi II, Media
Aeusculapius.
Sylvia
A. Price dan Lorraine M. Wilson, 1995, Patofisiologi, Edisi
IV, EGC. Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)