Kamis, 29 Agustus 2013

Askep Diabetes Melitus

BAB  I
PENDAHULUAN




A.             Latar Belakang

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Agar dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal maka dikembangkan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat yang mencakup upaya peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang bersifat menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Dengan demikian perawatan merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam semua upaya tersebut diatas. Dalam upaya perawatan ini perawat melaksanakan suatu asuhan keperawatan dengan memperhatikan klien secara menyeluruh baik fisik, mental, sosial maupun spiritual, dimana perawat harus selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam proses pertumbuhan dan pemulihan klien dengan gangguan sistem endokrin khususnya Diabetes Melitus.
Diabetes Mellitus menimbulkan gangguan multi sistem dan merupakan suatu penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah klien dengan Diabetes Mellitus yang datang ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Menurut catatan di ruang perawatan RSU Kota Tangerang Selatan. Jumlah yang dirawat dari Januari sampai Maret 2013 sebanyak kurang lebih 50 orang dan diantaranya meninggal.
Diabetes Mellitus jika tidak ditangani dengan baik, maka akan mengakibatkan timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah, saraf dan lain-lain.
Mengingat resiko dari Diabetes Mellitus tersebut maka tindakan perawatan yang sempurna sangat dibutuhkan.
Penyembuhan penyakit Diabetes Mellitus tidak hanya dengan pengobatan saja, tapi yang lebih penting adalah diet yang baik, olah raga yang teratur, dan juga pendidikan bagi klien dan keluarga.
B.             Batasan Masalah

Pada penulisan karya tulis ini, penulis membatasi ruang lingkup masalah hanya pada asuhan keperawatan yang diberikan pada satu klien yang dirawat di ruang perawatan Bedah RSU Kota Tangerang Selatan pada tanggal 26 Maret sampai 30 Maret. Uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan kasus Diabetes Mellitus sangatlah penting, karena itulah sehingga penulis membatasi masalah hanya pada asuhan keperawatan Diabetes Mellitus yang dirawat di ruang perawatan Bedah di RSU Kota Tangerang Selatan selama 4 hari.

C.             Tujuan Penulisan

1.      Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi atau gambaran yang nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan klien dengan komplikasi Diabetes Melitus agar mencapai terget.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk memperoleh gambaran tentang pengkajian fisik pada pasien Diabetes Mellitus.
b.      Untuk memperoleh gambaran tentang diagnosa perawatan dan rencana keperawatan pada pasien Diabetes Mellitus.
c.       Dapat melakukan tindakan perawatan pada pasien Diabetes Mellitus.
d.      Untuk memperoleh gambaran tentang evaluasi pelaksanaan keperawatan pada klien dengan  Diabetes Mellitus.
e.       Mendokumentasikan asuhan keperawatan pasien Diabetes Mellitus secara benar dan baik.

D.    Manfaat Penulisan
1.      Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan tugas karya tulis yang akan dinilai untuk mendapat Sertifikat
2.      Sebagai bahan masukan bagi tenaga keperawatan khususnya di ruang perawatan Bedah RSU Kota Tangerang selatan tempat saya PKL
3.      Bahan bacaan.
E.     Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran yang jelas dalam penyusunan karya tulis ini, penulis membagi dalam lima bab, yaitu :
dan
BAB I : terdiri dari Latar Belakang, Batasan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan dan Sistematika Penulisan
BAB II : terdiri dari Definisi kasus yang saya buat, Etiologi, Tanda dan Gejala juga Komplikasi yang ada di dalam kasus yang saya tanggapi
BAB III : terdiri dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Tindakan, dan Evaluasi Tindakan
BAB IV : terdiri dari Kesimpulan dan Evaluasi dan didalamnya terdapat Kesimpulan dan Saran untuk para Siswi, Pekerja diRumah Sakit dan untuk Pembimbing PKL




























BAB II
TINJAUAN TEORI




A.    Definisi Diabetes Melitus
1.      Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis (Barbara C. Long, 1995).
Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner dan Sudarta, 1999).
 Diabetes Mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO).
Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit kronis yang ditemukan di seluruh dunia dengan prevalensi penduduk yang bervariasi dari 1 – 6 % (John MF Adam).


2.      Anatomi Fisiologi Pankreas
Pankreas adalah kelenjar majemuk bertanda dan strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah, panjang kira-kira 15 cm berat 60 – 100 gram. Letak pada daerah umbilical, dimana kepalanya dalam lekukanduodenum dan ekornya menyentuh kelenjar lympe, mengekskresikannya insulin dan glikogen ke darah.
Pankreas terdiri dari tiga bahagian yaitu :
a.       Kepala pankreas merupakan bahagian paling besar terletak di sebelah kanan umbilical dalam lekukan duodenum.
b.      Badan pankreas merupakan bagian utama organ itu letaknya sebelah lambung dan depan vertebra lumbalis pertama.
c.       Ekor pankreas adalah bagian runcing sebelah kiri, dan yang sebenarnya menyentuh lympa.
Pankreas terdiri dari dua jaringan utama yaitu :
·        Acini yang menyekresi getah pencernaan ke duodenum.
·        Pulau langerhans yang tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukogen langsung ke darah.
Pulau langerhans manusia mengandung tiga jenis sel utama yaitu sel alfa, beta dan delta yang satu sama lain dibedakan dengan struktur dan sifat pewarnaannya. Sel beta mengekresi insulin, sel alfa mengekresi glukagon, dan sel-sel delta mengekresi somatostatin.

Fungsi pancreas ada dua, maka disebut organ rangka, yaitu :
a.       Fungsi eksokrin, dilaksanakan oleh sel sekretori lobula yang membentuk getah pancreas berisi enzim dan elektrolit. Jenis-jenis enzim dari pancreas adalah :
1.)    Amylase : menguraikan tepung menjadi maltosa atau maltosa dijadikan polisakarida dan polisakarida dijadikan sakarida kemudian dijadikan monosakarida.
2.)    Tripsin : menganalisa pepton menjadi polipeptida kemudian menjadi asam amino.
3.)    Lipase : menguraikan lemak yang sudah diemulsi menjadi asam lemak dan gliserol gliserin.
b.      Fungsi endokrin atau kelenjar tertutup berfungsi membentuk hormon dalam pulau langerhans yaitu kelompok pulau-pulau kecil yang tersebar antara alveoli-alveoli pancreas terpisah dan tidak mempunyai saluran.
Oleh karena itu hormon insulin yang dihasilkan pulau langerhans langsung diserap ke dalam kapiler darah untuk dibawa ke tempat yang membutuhkan hormon tersebut. Dua hormon penting yang dihasilkan oleh pancreas adalah insulin dan glukagon
1).    Insulin
Insulin adalah protein kecil yang berat molekulnya 5808 untuk manusia. Insulin terdiri dari dua rantai asam amino, satu sama lain dihubungkan oleh ikatan disulfide. Sekresi insulin diatur oleh glukosa darah dan asam amino yang memegang peranan penting. Perangsang sekresi insulin adalah glukosa darah. Kadar glukosa darah adalah 80 – 90 mg/ml.
Mekanisme untuk mencapai derajat pengontrolan yang tinggi yaitu :
a.)    Fungsi hati sebagai sistem buffer glukosa darah yaitu meningkatkan konsentrasinya setelah makan, sekresi insulin juga meningkat sebanyak 2/3 glukosa yang di absorbsi dari usus dan kemudian disimpan dalam hati dengan bentuk glukagon.
b.)    Sebagai sistem umpan balik maka mempertahankan glukosa darah normal.
c.)    Pada hypoglikemia efek langsung glukosa darah yang rendah terhadap hypothalamus adalah merangsang simpatis. Sebaliknya epinefrin yang disekresikan oleh kelenjar adrenalin masih menyebabkan pelepasan glukosa yang lebih lanjut dari hati. Juga membantu melindungi terhadap hypoglikemia berat.
Adapun efek utama insulin terhadap metabolisme karbohidrat, yaitu :
a.)    Menambah kecepatan metabolisme glukosa
b.)    Mengurangi konsentrasi gula darah
c.)    Menambah penyimpanan glukosa ke jaringan.
2).    Glukagon
Glukagon adalah suatu hormon yang disekresikan oleh sel-sel alfa pulau langerhans mempunyai beberapa fungsi yang berlawanan dengan insulin. Fungsi yang terpenting adalah : meningkatkan konsentrasi glukosa dalam darah. Glukagon merupakan protein kecil mempunyai berat molekul 3842 dan terdiri dari 29 rantai asam amino.
Dua efek glukagon pada metabolisme glukosa darah :
a.)    Pemecahan glikogen (glikogenesis)
b.)    Peningkatan glukogenesis
Pengatur sekresi glukosa darah perubahan konsentrasi glukosa darah mempunyai efek yang jelas berlawanan pada sekresi glukagon dibandingkan pada sekresi insulin, yaitu penurunan glukosa darah dapat menghasilkan sekresi glukagon, bila glukagon darah turun 70 mg/100 ml darah pancreas mengekresi glukosa dalam jumlah yang sangat banyak yang cepat memobilisasi glukosa dari hati. Jadi glukagon membantu melindungi terhadap hypoglikemia.

3.      Patofisiologi
Sebagian besar patologi Diabetes Mellitus dapat dikaitkan dengan satu dari tiga efek utama kekurangan insulin sebagai berikut :
(1) Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, dengan akibat peningkatan konsentrasi glukosa darah setinggi 300 sampai 1200 mg/hari/100 ml.
(2) Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah-daerah penyimpanan lemak, menyebabkan kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lipid pada dinding vaskuler yang mengakibatkan aterosklerosis.
(3) Pengurangan protein dalam jaringan tubuh.
Akan tetapi selain itu terjadi beberapa masalah patofisiologi pada Diabetes Mellitus yang tidak mudah tampak yaitu kehilangan ke dalam urine penderita Diabetes Mellitus. Bila jumlah glukosa yang masuk tubulus ginjal dan filtrasi glomerulus meningkat kira-kira diatas 225 mg.menit glukosa dalam jumlah bermakna mulai dibuang ke dalam urine. Jika jumlah filtrasi glomerulus yang terbentuk tiap menit tetap, maka luapan glukosa terjadi bila kadar glukosa meningkat melebihi 180 mg%.
Asidosis pada diabetes, pergeseran dari metabolisme karbohidrat ke metabolisme telah dibicarakan. Bila tubuh menggantungkan hampir semua energinya pada lemak, kadar asam aseto – asetat dan asam Bihidroksibutirat dalam cairan tubuh dapat meningkat dari 1 Meq/Liter sampai setinggi 10 Meq/Liter.

4.      Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi dari WHO (1985) dibagi beberapa type yaitu :
a.       Diabetes Mellitus type insulin, Insulin Dependen Diabetes Mellitus (IDDM) yang dahulu dikenal dengan nama Juvenil Onset Diabetes (JOD), penderita tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya ketoasidosis dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia muda dapat disebabkan karena keturunan.
b.      Diabetes Mellitus type II, Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus (NIDOM), yang dahulu dikenal dengan nama Maturity Onset Diabetes (MOD) terbagi dua yaitu :
1.)    Non obesitas
2.)    Obesitas
Disebabkan karena kurangnya produksi insulin dari sel beta pancreas, tetapi biasanya resistensi aksi insulin pada jaringan perifer.
Biasanya terjadi pada orang tua (umur lebih 40 tahun) atau anak dengan obesitas.
c.       Diabetes Mellitus type lain
1.)    Diabetes oleh beberapa sebab seperti kelainan pancreas, kelainan hormonal, diabetes karena obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin, kelainan genetik dan lain-lain.
2.)    Obat-obat yang dapat menyebabkan huperglikemia antara lain :
Furasemid, thyasida diuretic glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik
3.)    Diabetes Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama kehamilan, tidak dikelompokkan kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan meningkat sekresi hormon pertumbuhan dan hormon chorionik somatomamotropin (HCS). Hormon ini meningkat untuk mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus.


B.      Etiologi
Etiologi dari Diabetes Mellitus sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti dari studi-studi eksperimental dan klinis kita mengetahui bahwa Diabetes Mellitus adalah merupakan suatu sindrom yang menyebabkan kelainan yang berbeda-beda dengan lebih satu penyebab yang mendasarinya.
Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu :
a.       Faktor genetik
Riwayat keluarga dengan diabetes :
Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita Diabetes Mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita Diabetes Mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.
b.      Faktor non genetik
1.)    Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap Diabetes Mellitus.
2.)    Nutrisi
a.)    Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.
b.)    Malnutrisi protein
c.)    Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.
3.)    Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.
4.)    Hormonal
Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat



C.     Tanda dan Gejala
Gejala yang lazim terjadi, pada Diabetes Mellitus sebagai berikut :
Pada tahap awal sering ditemukan :
a.       Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga penderita mengeluh banyak kencing.
b.      Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi penderita lebih banyak minum.
c.       Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang. Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein.
d.      Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.

D.    Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan Diabetes Mellitus adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Jika klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya, ia akan terhindar dari hyperglikemia atau hypoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari tiga faktor aktifitas fisik, diet dan intervensi farmakologi dengan preparat hyperglikemik oral dan insulin. Penyuluhan kesehatan awal dan berkelanjutan penting dalam membantu klien mengatasi kondisi ini.

E.      Komplikasi
  a.       Akut
1.)    Hypoglikemia
2.)    Ketoasidosis
3.)    Diabetik
b.      Kronik
1.)    Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.
2.)    Mikroangiopati mengenai pembuluh darah kecil retinopati diabetik, nefropati diabetic.
3.)    Neuropati diabetic.

























BAB III
TINJAUAN KASUS





       I.            DATA DEMOGRAFI
A.   BIODATA
-         Nama ( nama lengkap, nama panggilan )     : Tn. I
-         Usia / tangal lahir                                          : 51th
-         Jenis kelamin                                                : Laki-laki
-         Alamat ( lengkap dengan no.telp )               : Mabad 25 RT 09/05 Ciputat Timur
-         Suku / bangsa                                               : Betawi
-         Status pernikahan                                         : Menikah
-         Agama / keyakinan                                      : Islam
-         Pekerjaan / sumber penghasilan                  : Buruh
-         Tgl Masuk RS                                              : 7 – 3 – 2013
-         Tgl Pengkajian                                             : 26 – 3 – 2013 sampai tanggal 30 – 3 – 2013
-         No. Register                                                 : 36 70 2
-         Diagnosa Medis                                           : DM Type I disertai dengan luka dikaki kanan yang tidak kunjung sembuh dan ada nanah di dalam luka tersebut
-         Therapy medik                                            :

B.   Penanggung Jawab
-         Nama                                                               : Sri Astuti
-         Usia                                                                 : 45th
-         Jenis Kelamin                                                   : Perempuan
-         Pekerjaan / sumber penghasilan             : Ibu rumah tangga
-         Hubungan dengan klien                         : Istri


II. Riwayat Penyakit
A.     KELUHAN UTAMA
Klien mengatakan lemas serta nyeri di bagian kaki kanan dengan mengeluarnya nanah membuat klien tidak bisa menjalankan aktivitas yang berat

B.     RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Klien datang pertama kali ke UGD di siang hari pada tanggal 7 maret 2013 dengan keluhan nyeri di kaki bagian kanan, terlihat dengan luka yang membengkak serta mengeluarkan nanah dan wajah klien pucat pasi lalu yang menanganinya adalah perawat UGD dan langsung menganjurkan bahwa pasien harus di rawat inap agar kesehatannya kembali pulih.

C . RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU
·        Klien menderita penyakit kronis (Diabetes Mellitus ± 6 tahun yang lalu)
·        Klien mengatakan beliau memang merokok dengan pola hidup yang tidak baik
·        Klien tidak pernah operasi
·         Tidak ada riwayat alergi
·        Klien mengatakan Riwayat Penyakit Keluarganya adalah
D. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Ibu : Diabetes Melitus
Ayah : jantung
Anak : pernah dirawat di RS karena penyakit DHF


III. PEMERIKSAAN FISIK
A.  Keadaan Umum
1)   Tingkat kesadaran                                : Composmetis
2)      Orientasi ( waktu, orang & tempat )      : Baik
3)      Bahasa & Memori                                : Untuk bahasa dan memori klien cukup jelas berbicara dan mengingat tentang bagaimana bisa terjadi penyakit Diabetes pada pasien itu sendiri
4)      Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi                             : 97 kali/menit
Pernapasan                   : 27 kali/menit
Suhu                             : 36,3̊ C

B.  Berat Badan & Tinggi Badan
Berat Badan                       : 63 Kg
Tinggi Badan                      : 160 Cm

IV. AKTIFITAS SEHARI – HARI
A.   Nutrisi
-         Selera makan                : Baik
-         Menu makan selama 24 jam      : Nasi, lauk pauk, sayur, buah, makanan ringan dll.
-         Frekuensi makan selama 24 jam            : 3x sehari
-         Makanan yang disukai dan makanan yang dipantang                  : Orek tempe dan karena klien menderita penyakit Diabetes maka makanan yang dipantang adalah makanan yang terlalu mengandung gula. Tapi karena klien bandel dan susah dibilangin dan ngga mau dipantang akhirnya Tidak Ada Makanan Yang Dipantangnya
-         Pembatasan pola makan     : -
-         Cara makan ( bersama keluarga, alat makan yang digunakan )     : Makan bersama keluarga di meja makan dan menggunakan Piranti untuk makan seperti sendok, piring dan gelas
-         Ritual sebelum makan     : Klien mengatakan biasanya klien minum air putih dahulu sebelum makan dan dilanjutkan dengan menbaca do’a

B.   Cairan
-         Jenis cairan yang dikonsumsi dalam 24 jam    : Air putih, teh dan kopi tapi terkadang klien bisa meminum minuman softdrink
-         Frekuensi minum     : Kalau air putih hanya seperlunya saja atau ketika klien sedang makan maka klien memilih Air Putih, untuk kopi hanya pada saat pagi hari saja dan saat bersantai klien mengatakan minum air teh yang manis dengan camilan-camilan ringan
-         Kebutuhan cairan dalam 24 jam    : Kurang lebih hanya 5 gelas dalam sehari

C.   Eliminasi ( BAB & BAK )
-         Tempat pembuangan     : WC
-         Frekuensi ? Kapan ? Teratur ?     : Tidak menentu, tapi terkadang bisa untuk BAB 2x sehari, pagi dan sore, teratur dan untuk BAK bisa mencapai 5x dalam sehari dan teratur juga
D.   Istirahat Tidur
-         Apakah cepat tertidur     : Klien mengatakan bahwa susah tidur ketika malam karena nyeri yang diderita
-         Jam tidur (siang/malam)    : Tidur siang ± 3 jam. Dari jam 1 s/d 3. Tidur malam  ± 7 jam dari jam 10 malam s/d 5 subuh
-         Apakah tidur secara rutin     : Rutin


E.   Olahraga
-         Program olahraga tertentu     : Lari dan voly
-         Berapa lama melakukan dan jenisnya     : kurang lebih 2 jam jenisnya adalah lari dan bola voly
-         Perasaan setelah melakukan olahraga     : Seger dan merasa bugar

F.    Rokok / alkohol atu obat-obatan
-         Apakah merokok ? jenis ? berapa banyak ? kapan mulai merokok ?   : Klien mengatakan bahwa beliau merokok, jenisnya Gudang Garam, kadang bisa ½ bungkus dan telah dimulai sejak klien SMP
-         Apakah minum-minuman keras ? Berapa minum/hri/minggu ? Jenisn minuman ? apakah banyak minum ketika stres ? Apakah minuman keras
-          mengganggu prestasi kerja ?     : Klien mengatakan bahwa klien pernah meminum minuman keras
-         Kecanduan kopi, alkohol, teh atau minuman ringan ?     : Klien mengatakan bahwa klien kecanduan terhadap kopi, teh dan minuman ringan
-         Apakah mengkonsumsi obat dari dokter (marihuana, pil tidur, obat bius)     : klien mengatakan jika sulit tidur klien akan mengkonsumsi obat tidur


G.  Personal Higien
-         Mandi (frekuensi, cara, alat mandi, kesulitan, mandiri/dibantu)     : Klien mengatakan bahwa klien mandi 3x dalam sehari dengan cara seperti orang mandi pada umumnya, alat mandinya umum seperti gayung, sikat gigi, pasta gigi, sabun, shampoo, dan air. Klien juga mengatakan bahwa klien tidak kesulitan dan melakukan semuanya secara mandiri
-         Cuci rambut     : 1 hari satu kali
-         gunting kuku     : klien mengatakan bahwa klien hanya gunting kuku pada saat kukunya panjang kurang lebih 2 minggu sekali
-         Gosok gigi     : 2x sehari

H.   Aktivitas atau Mobilitas
-         Kegiatan sehari-hari                        : Berangkat ke kantor, pergi pagi pulang pada malam hari
-         Pengaturan jadwal harian                : -
-         Penggunaan alat bantu aktivitas       : -
-         Kesulitan pergerakan tubuh : Klien mengatakan bahwa dalam kesulita pergerakan tubuh sering kali terjadi pada saat habis duduk yang lama maka kaki kanan akan terasa nyeri yang sangat berlebihan

I.      Rekreasi
-         Bagaimana perasaan anda saat bekerja       : Sangat capek, terkadang jenuh dengan aktifitas
-         Berapa banyak waktu luang                        : Hanya 2 hari saja
-         Apakah puas setelah rekreasi                      : Sangat puas
-         Apakah anda dan keluarga menghabiskan waktu senggang  : Klien mengatakan bahwa sering menghabiskan waktu senggang bersama anak dan cucunya
-         Bagaimana perbedaan hari libur dan hari kerja         : Sangat berbeda karena disaat waktu kerja fikiran terasa jenuh dan capek sedangkan saat hari libur klien merasa sangat bahagia karena bisa meluangkan waktu untuk keluarga















Pola kebiasaan sehari – hari

Pola kebiasaan
Nutrisi.

Sebelum masuk RS
Sewaktu masuk RS
Makan



Enak, klien mengatakan bisa menghabiskan sehari 3-4 piring nasi berserta lauk-pauknya, ditambah lagi dengan camilan-camilan yang dibelinya di supermarket

Klien mengatakan bahwa sewaktu di RS tidak bisa makan secara enak karna katanya “anta” tapi teratur
Frekuensi

3-4 kali dalam sehari, ditambah camilan-camilan

Dibatasi secara makan
Jenis
Nasi, buah, sayuran, ikan, beserta camilan yang ada di supermarket
Diet rendah gula
Alergi
Tidak ada alergi terhadap makanan
Tidak ada alergi terhadap makanan
Keluhan
-
Selama dirawat, klien terus menerus mengeluh karena makanannya tidak sesuai deng apa yang klien mau
Minum
 9 gelas dalam sehari
± 4 gelas dalam sehari
Jumlah
± 1,5 Liter
± ½ Liter
Jenis
Air putih, teh, kopi, dan softdrink
Air putih saja
Keluhan
-
-
Pola Kebiasaan
Eliminasi
Sebelum masuk RS
Sewaktu Di RS
BAK
Teratur
Tidak teratur
Frekuensi
± 5 kali
±2 kali
Jumlah
± 1500 cc/hari
± 500 cc/hari
Warna
Putih pucat
Putih, kuning pekat
Keluhan
-
Klien mengatakan pada saat BAK mengapa Urine-nya menjadi berubah warna dan berbau obat
BAB
Teratur
Sangat tidak teratur
Frekuensi
2x sehari biasanya pagi dan sore hari
Kadang 2 hari sekali baru bisa BAB
Konsistensi
Padat berisi
Kadang sangat padat sekali tapi kadang sangat encer
Warna
Kecoklatan
Coklat agak hitam
Keluhan
-
Kadang terasa sakit saat BAB
Istirahat


Tidur siang
Jarang
± 5 jam. Dari jam 1 siang – 5 sore.
Tidur
Sangat cepat, jam 9 sudah tidur
Kadang klien mengidap insomnia karena klien harus merasakan nyeri di malam hari
Keluhan
-
-
Personal hygiene


Mandi
Teratur
Sangat tidak teratur
Frekuensi
3x sehari
Jarang mandi
Metode
Pakai gayung
Hanya diseka
Keluhan
-
-
Keramas
Teratur
Sangat tidak teratur
Frekuensi
1 hari 1x
Jarang, bahkan bisa sampai seminggu tidak keramas
Menggunakan
Shampoo
Shampoo
Keluhan
-
-
Gosok gigi


Frekuensi
2x dalam 1 hari
Jarang sikat gigi
Menggunakan
Sikat dan pasta gigi
Sikat dan pasta gigi
Keluhan
-
Klien mengeluh pada saat disikat, giginya berdarah
Gunting kuku


-         Frekuensi
Seminggu 1x
Jarang sekali menggunting kuku
Keluhan
-
Klien mengeluh kukunya sakit dan terasa bau juga tidak enak

V. TEST DIASNOSTIK
-         Laboratorium :
·        GDS Per-2 jam 200mg/dl
·        GDS Per-4 jam 226mg/dl
-         Ro Foto : -
-         CT Scan : -
-         MRI, USG, EEG, ECG dll : -

VI. TERAPI OBAT
·       Ciprofloxacin 0,2 gr/rj ( Intra Vena )
·        Ketorolac 1a drip/8jam ( IntraVena )
·        Cefriaxone 2x2 gr ( Intra Vena )
·        RL, NACL 20TPM/mnt ( IUFD )
·        Antibiotik ( Oral )
·         Metronidazole       3 x 500 mg/hari ( Oral )
·        Pletal                     2 x 1 tablet/hari ( Oral )
·        Neurosambe          1 x 1 tablet/hari ( Oral )


C.    Diagnosa Keperawatan
Analisa Data
Data Fokus
Etiologi
Diagnosa Keperawatan
DS : Klien mengatakan bahwa nyeri di bagian kaki kanan serta pusing, kulit gatal dan kering, kesemutan terus menerus dan kram otot
DO : Klien tampak;
·        nanah di bagian luka lama
·        tanda-tanda infeksi sudah ada
·        suhu tubuh yang naik
·        kesadaran composmentis
·        kesehatan sakit sedang
·        kulit klien tampak memera
·        cek GDS
·        setelah di TTV
-         suhu : 38.0̊C
-         nadi : 79x/m
-         pernapasan : 23x/m
-         tekanan darah : 130/90 mmHg
Penyebab terjadinya kekurangan insulin  dan adanya faktor herediter yang memegang peranan penting di data subjektif
Resiko infeksi berhubungan dengan hiperglikemia
DS : Klien mengatakan lemas sehabis diberi insulin juga tidak nafsu makan dan kaki tetap nyeri
DO : Klien memang tetap tampak pucat
·        tanda-tanda infeksi makin terlihat karena dibagian kaki kanan sudah ada nanah, kemerahan disertai dengan panas tubuh
·        IUFD nampak terpasang
·        setelah di TTV
-         suhu 37.9
-         nadi 92
-         pernapasan 18
-         tekanan darah 130/90 mmHg
Penyebab terjadinya lemas karena pemberian insulin
Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan
DS : Klien mengatakan tidak bisa menjalankan aktifitas seperti biasa dan kaki kanan klien minta di ganti perban
DO : Klien nampak segar karena habis mandi
·        IUFD terpasang dengan cairan RL
·        kesadaran composmentis
·        keadaan umum sakit sedang
·        perban klien nampak terlihat nanah yang keluar dan mengeluarkan bau yang khas
·        klien tampak sedang makan namun makannya hanya ½ nya saja
·         setelah di TTV
-         suhu 37.3
-         nadi 81
-         pernapasan 20
-         tekanan darah 130/60 mmHg
·        klien juga nampak teriak-teriakan seakan-akan tidak betah dengan keadaan Rumah Sakit
Penyebab terjadinya lemas akibat tekanan darah Diastolnya cukup rendah jauh dari observesi yang dilakukan kemarin siang. Klien juga menghabiskan makannya hanya ½ porsi yang disajikan
Penurunan aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
DS : Klien mengatakan ingin pulang saja karena sudah tidak betah dengan keadaan rumah sakit
DO : Klien nampak meminta keluarganya untuk pulang saja
·        perawat mencoba memberi pengetahuan tentang resiko penyakit klien kalau klien tetap ingin meminta pulang
·        ttv
-         suhu : 37.1
-         nadi : 80
-          


           

D.  Diagnosa Keperawatan, Rencana, Tindakan & Evaluasi
Asuhan Keperawatan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan lemasnya tubuh dan tetap terjadi infeksi pada kaki kanan klien
·        Konsul dengan dokter spesialis bedah
·        TTV klien
·        Pemeriksaan GDS
·        Pemeriksaan kaki pasien
·        Klien dianjurkan mengkonsul dahulu ke dokter spesialis bedah untuk di tindak lanjut dan mendapat perawatan yang layak sesuai dengan penyakitnya
·        Melakukan pemeriksaan TTV
·        Melakukan pengecekan GDS untuk mengetahui kadar gula darah klien
·        Memeriksakan kaki klien agar mengetahui seberapa beratnya luka di kaki kanan klien
S : Klien mengatakan bahwa nyeri di bagian kaki kanan serta pusing dan mual
O : Klien tampak pucat pasi sejak datang ke RS dengan mengeluh
·        kaki sakit
·        terdapat nanah di bagian luka lama
·        terlihat tanda-tanda infeksi
·        suhu tubuh yang meningkat
Kesadaran composmentis
Gula darah klien diatas batas normal yaitu 200mg/dl, setelah di TTV
·        suhu : 39,1
·        nadi : 92
·        pernapasan : 22
·        TD : 130/90
A : Masalah belum teratasi
-         gangguan rasa nyaman (nyeri)
-         adanya infeksi pada luka
P : Intervensi dilanjutkan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan lemasnya tubuh dan tetap terjadi infeksi pada kaki kanan
·        Observasi keluhan utama klien
·        Ukur TTV
·        Memberikan terapi sesuai advice dokter
·        Monitori tetesan infus
·        Cek GDS
·        Kompres klien jika suhu tetap tinggi
·        Mengobservasi keluhan utama klien
·        Mengukur TTV
-         suhu : 38,5
-         nadi : 88x/m
-         RR : 20x/m
-         TD : 130/60mmHg
·        Memonitori tetesan infus
·        Mengecek GDS
·        Mengkompres klien
S : Klien mengatakan dia lemas sehabis mengkonsumsi obat juga tidak nafsu makan dan kakinya sangat nyeri
O : Klien tampak lemas dan pucat
·        tanda-tanda infeksi makin terlihat karena di bagian kaki kanan sudah ada nanah, kemerahan disertai panas tubuh
·        IUFD nampak terpasang
·        setelah di TTV
-         suhu 38,5
-         nadi 88x/m
-         RR : 20x/m
-         TD : 130/60 mmHg
A : Masalah  belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan panas badan yang cukup tinggi mengakibatkan tidak nafsu makan dan nyeri yang masih menyerang dibagian kaka kanan klien tidak begitu nyaman dengan keadaan.
·        Observasi keluhan utama klien
·        Ukur TTV
·        Motifasi klien agar tetap mau makan walau hanya sedikit
·        Kompres air hangat pada luka kaki kanan klien
·        GV kaki klien
·        Observasi tetesan infus
·        Kolaborasi dengan ahli gizi untuk makanan klien
·        Mengobservasi keluhan klien
·        Mengukur TTV
·        Memotifasi klien agar tetap mau makan walau hanya sedikit
·        Mengompres air hangat pada luka kaki klien
·        MengGV kaki klien
·        Mengobservasi tetesan infus
·        Mengkolaborasi ahli gizi untuk makanan diet rendah gula klien
S : Klien mengatakan pusing kepala, lemasnya berkurang tapi kaki kanan tetap nyeri yang amat sangat dan klien minta di ganti perban
O : Klien tampak pucat namun tidak pasi
·        IUFD tampak terpasang dengan cairan RL
·        kesadaran composmentis
·        perban klien tampak kotor dengan bercampur nanah
·        kaki klien tampak sudah mengeluarkan bau dan nanah
·        klien tampak sedang makan namun hanya ½ porsi saja yang dihabiskan
·        setelah di TTV
-         suhu :37,5
-         nadi : 88x/m
-         RR : 20
-         TD : 120/60 mmHg
·        klien pun tampak teriak-teriak seakan-akan tidak betah dengan keadaan RS
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
Penurunan aktivitas dan gangguan rasa nyaman pada kaki yang luka serta mengeluarkan nanah mengakibatkan klien merasa risih dan malu.
·        TTV klien
·        GV kaki klien
·        Fokus pada nanah yang keluar
·        Motivasi klien agar tidak malu
·        Monitori tetesan infus
·        Berikan terapi obat sesuai advice dokter
·        Terapi insulin jika GDS-nya diatas 200 mmHg
·        MenTTV klien
-         suhu : 37,2
-         nadi : 87x/m
-         RR : 81X/M
-         TD : 130/80 mmHg
S : Klien mengatakan badannya lemas dan pusing di kepalanya
O : Klien tampak lemah
·        conjungtiva nampak pucat
·        terapi insulin 25-10-10
·        tampak nanah yang keluar dari perban
·        luka lama semakin membesar akibat infeksi yang akut karena adanya penyakit komplikasi lain seperti Diabetes Melitus
·        IUFD tampak terpasang
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan terjadinya infeksi yang sudah lama namun pasiennya tidak bisa menjaga kebersihan
·        Konsul dengan dokter spesialis bedah
·        Anjurkan klien untuk menjaga Higienitas
·        TTV
·        Observasi keluhan utama klien
·        Monitori tetesan infus
·        Berikan terapi obat sesuai advice dokter
·        Mengkonsultasi dengan dokter
·        MenTTV klien
·        Mengobservasi keluhan utama klien
·        Memonitori tetesan infus
·        Menganjurkan klien agar tetap menjaga Higienitas
·        Memberikan terapi sesuai advice dokter
S : Klien mengatakan bahwa kaki sakit dengan frekuensi yang mulai sedikit tapi kaki tetap mengeluarkan nanah
O : Klien tampak lemas
·        kaki mengeluarkan nanah
·        IUFD tampak terpasang
·        setelah diTTV
-         suhu : 37,5
-         nadi : 85x/m
-         TD : 120/60 mmHg
-         RR : 20x/m
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan luka lama yang dialami klien serta komplikasi penyakit Diabetes Melitus yang sudah cukup lama
·        TTV klien
·        Terapi obat sesuai advice dokter
·        Observasi keluhan utama klien
·        Anjurkan untuk tidak memakan makanan dari luar
·        Meng-TTV klien
·        Memberi terapi obat sesuai advice dokter
·        Mengobservasi keluhan utama klien
·        Menganjurkan klien untuk tidak memakan dari luar
S : Klien mengatakan kakinya nyari serta badan panas-dingin
O : Klien nampak kedinginan dan ada bekas abu rokok di westafel tempat klien dirawat. serta ada bungkus permen dan minuman softdrink yang terdapat dimeja klien
-         klien di cek GDSnya 384 mg/dl
-         suhu : 37, 4
-         nadi : 95x/m
-         RR : 20x/m
-         TD : 110/60 mmHg
-         IUFD akan dilepas
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dihentikan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kaki kanan yang susah digerakan akibat jarang beraktivitas
·        Berikan obat penahan rasa nyeri
·        TTV klien
·        Anjurkan untuk sering bergerak
·        GV kaki klien
·        Berikan terapi obat sesuai advice dokter
·        Observasi tetesan infus
·        Memberikan obat penahan rasa nyeri
·        Men-TTV klien
·        Menganjurkan untuk sering bergerak
·        Meng-GV kaki klien
·        Memberikan terapi obat sesuai advice dokter
S : Klien mengatakan nyeri di bagian kaki kanan dengan frekuensi ± 3 jam. Klien juga mengatakan luka di kaki kanannya membesar namun setelah kaki klien di GV, nanah di klien menjadi berkurang
O : Klien tampak terlihat segar dari biasanya
·        kaki klien nampak bersih dan jarang ada nanah yang keluar
·        porsi makan klien juga tampak habis
·        klien tidak mengeluh sakit ataupun panas dingin
·        IUFD tampak terpasang yaitu cairan RL 20 TPM/m
·        klien menghabiskan obat yang dianjurkan
·        tapi, nampak klien susah dalam berjalan
·        setelah di TTV
-         suhu : 36,3
-         nadi : 81
-         RR : 20
-         TD : 120/80 mmHg
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi di lanjutkan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kaki yang tidak bisa digerakan dikarenakan otot tendong yang putus karena sudah rusak dan membusuk
·        Periksa kaki klien
·        Diskusikan dengan dokter spesialis Tn.I
·        TTV
·        Berikan penyuluhan agar klien dapat memahami situasi
·        GV kaki klien
·        Memeriksakan keadaan kaki klien
·        Mendiskusikan dengan dokter spesialis Tn.I
·        Men-TTV klien
·        Memberikan penyuluhan kepada klien agar klien dapat memahami situasi
·        Meng-GV kaki klien
S : Klien mengatakan kakinya sudah tidak bisa digerakkan meskipun dipaksa untuk berjalan, klien juga nampak memaksa ingin pulang saja
O : Klien nampak tidak betah berada dirumah sakit
·        klien memang nampak tidak bisa berjalan walaupun klien sudah mencoba
·        IUFD tampak tidak terpasang
·        setelah di TTV
-         suhu : 37,0
-         nadi : 81x/m
-         RR : 20x/m
-         TD : 120/90 mmHg
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan rasa tidak nyamannya klien saat berada di ruangan
·        Up infus
·        Konsul dengan dokter untuk persetujuan pulang
·        Meng-up infus klien
·        Menganjurkan konsultasi ke dokter sebelum pulang
S : Klien mengatakan ingin pulang saja
O : Klien nampak tidak betah
·        klien tidak bisa berjalan
·        aktifitas mulai menggunakan kursi roda dan tongkat untuk menyangga kaki
·        IUFD sudah nampak tidak terpasang
·        Perawat meng-up infus klien
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dihentikan
BAB IV
KESIMPULAN DAN EVALUASI



Kesimpulan dalam suatu asuhan keperawatan atau proses keperawatan adalah adanya ketidak sesuaian antara teori dan kenyataan yang ditemukan di lapangan.
Dalam asuhan keperawatan yang diberikan pada Tn. I dengan gangguan sistem endokrin akibat Diabetes Mellitus, juga ditemukan beberapa kesenjangan. Untuk memudahkan dalam memahami kesenjangan yang terjadi, maka penulis membahas sebagai berikut :

A.    Pengkajian
Pengkajian yang ditemukan pada kasus ini terdapat kesenjangan yaitu pasien tidak mengalami gejala utama pada Diabetes Mellitus, yaitu poliuri, polipagi, tetapi klien hanya mengeluh kelemahan tubuh, kurang nafsu makan dan berat badan menurun.
Tidak ditemukan ketiga gejala utama diatas mungkin disebabkan karena adanya therapy pemberian insulin yang adekuat.

B.     Perencanaan
Pada kasus ini penulis mengangkat/ temukan empat diagnosa keperawatan, tetapi secara umum yang termuat dalam teori keadaan pasien Diabetes Mellitus ada tujuh diagnosa keperawatan yakni :
1.      Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik.
2.      Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan  tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral.
3.      Resiko infeksi berhubungan dengan hyperglikemia.
4.      Resiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa/insulin dan atau elektrolit.
5.      Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
6.      Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang/progresif yang tidak dapat diobati, ketergantungan pada orang lain.
7.      Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/menginat, keselahan interpretasi informasi.
Pada kasus ini penulis menemukan dua diagnosa keperawatan yang tidak ada pada teori yaitu :
1.      Penurunan aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Hal ini diangkat karena klien tidak mampu melakukan aktifitasnya sendiri.
2.      Resiko terjadi hypoglikemia berhubungan dengan pemberian insulin
Hal ini diangkat karena pemberian terapi insulin yang terus menerus tanpa memantau kadar gula darah akan menyebabkan hyperglikemia.
Pada kasus ini penulis tidak mengangkat diagnosa utama yaitu kekurangan volume cairan karena pada pasien tidak ditemukan adanya gejala-gejala deficit volume cairan, seperti : out put urine meningkat, tachicardi dan evaporasi.
Diagnosa resiko tinggi tehadap perubahan persepsi sensori, kelelahan dan ketidak berdayaan serta kurang pengetahuan, tidak ditemukan dalam tinjauan kasus, hal ini disebabkan karena klien sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit selama ± 1 bulan sehingga kondisi penyakit klien sudah mulai membaik.

C.    Pelaksanaan
Pelaksanaan seluruh tindakan keperawatan yang dilakukan selalu berorientasi pada rencana yang telah dibuat terlebih dahulu. Pelaksanaan tindakan keperawatan yang berdasarkan teoritis ada yang belum terlaksana, semua ini disebabkan karena keadaan/sifat klien yang berbeda dan jenis perawatan yang dilaksanakan di ruang perawatan disesuaikan dengan keadaan dan sarana serta fasilitas yang tersedia.

D.    Evaluasi
Dalam teori pada evaluasi yang ditentukan adalah keadaan atau kriteria pencapaian tujuan sesuai rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan.
Pada studi yang ditangani melalui pendekatan proses keperawatan sebagai metode pemecahan masalah, maka dari 4 (empat) diagnosa keperawatan yang muncul/diangkat, 2 (dua) diantaranya teratasi dengan baik yaitu :
1.      Penurunan aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
Sedangkan dua diagnosa resiko yang diangkat, selama pelaksanaan studi kasus, tidak terjadi yaitu :
3.      Resiko terjadi hypoglikemia berhubungan dengan pembatasan diet dan terapi insulin.
4.      Resiko perluasan infeksi berhubungan dengan hyperglikemia.
Hal ini dapat dicapai karena klien dan keluarga sangat kooperatif dalam pelaksanaan tindakan keperawatan dan kerjasama yang baik dengan tim kesehatan lain, dan untuk mempertahankan agar kedua diagnosa resiko tersebut tidak menjadi aktual, penulis telah mendelegasikan ke petugas ruangan untuk melanjutkan penerapan proses keperawatan pada klien tersebut.
Setelah menyelesaikan studi kasus pada klien Tn. I dengan gangguan sistem endokrin ; Diabetes Mellitus di ruang Perawatan bedah Anyelir 3 bed 1 RSU Kota Tangerang Selatan, dengan bertitik tolak pada pembahasan bab sebelumnya maka penulis dapat menarik kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut :
1.      Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit kronik yang menimbulkan gangguan multisistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat.
2.      Pengkajian data penyakit Diabetes Mellitus dapat memberikan hasil bervariasi antara pasien satu dengan yang lain. Pada umumnya data dan gejala yang ditemukan timbul sebagai akibat terjadinya kekurangan insulin sehingga glukosa tidak masuk ke dalam sel.
3.      Perawatan dan pengobatan Diabetes Mellitus terdiri dari diet, yang merupakan hal yang sangat berperan, latihan fisik yang tepat, obat-obatan dan juga pendidikan kesehatan mengenai penyakit tersebut.

E.   Saran-saran
1.      Untuk Sekolah
Diharapkan agar sekolah bisa mampersiapkannya dengan baik agar lebih terlaksana dalam kegiatan magang ini. Contohnya, Nametag yang seharusnya dibagikan sebelum PKL dilaksanakan dan bentuknya tidak harus kertas tetapi seperti pada umumnya Nametag. Lalu baju untuk Keperawatan, seharusnya lebih rapih dari yang ini. Bahan baju keperawatan yang berwarna putih sangat tipis dan tidak bagus.

2.      Untuk Rumah Sakit
Diharapkan agar mau lebih menghargai siswa/i yang PKL. Terkadang selalu dianggap rendah karena tidak yakin dengan kemampuan anak PKL


3.      Untuk Siswa
Agar lebih mau mendengarkan dan belajar banyak dari kekurangan tentang Asuhan Keperawatan dan tetap bersikap dan menjaga nama baik sekolah


























Daftar Pustaka





Arjatmo Tjokronegoro, Prof. dr. Ph.D, Hendra Utama,1999, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi III, EGC. Jakarta.

Barbara C. Long, 1996, Perawatan Medikal Bedah , Ikatan Alumni Pendidikan Padjajaran Bandung.

Boedi Sarwono, 1984, Segi Praktis Diagnostik Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Guyton, 1987, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, EGC, Jakarta.

Hotma Purmoharjo, SKp, 1994, Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Endokrin, EGC, Jakarta.

Marylinn E. Doenges, dkk, 1994, Rencana Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Endokrin, EGC Jakarta.

Purnawan Junadi, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi II, Media Aeusculapius.


Sylvia A. Price dan Lorraine M. Wilson, 1995, Patofisiologi, Edisi IV, EGC. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar